sikula (sekolah) sabtu merah

Kita  menyebutnya republik, tanpa presiden dan dewan musyawarah. hukum-hukum kita ciptakan sambil mencabut rumput. hukum yang kita sepakati jika memang tak bikin mual, akan kita lestarikan sebagaimana tetangga kita melestarikan hewan buas yang hampir punah. dan aturan-aturan temporer itu, jika sudah tak layak untuk berlaku, siapa saja antara kita, bebas membantingnya ke tembok pagar.

akan tetapi Lamteumen tetap tak sesepi dahulu, ia bahkan sudah mampu memamerkan lika-liku jalannya sejak pemerintah menancapkan penerang penuh sentuhan estetik. hingga beberapa kalanya angin mesum meluncur mulus dari ketinggian Glee Geunteng. Adakah ini isyarat paling rahasia dari alam yang memaksa kita untuk tak berlama-lama  lagi memeluk guling. Kita mesti menjawab secepatnya sebelum didahului kokok ayam rumah sebelah. atau buru-burulah mengelabui perasaan seseorang.

di sana, siapa saja pernah berupaya menciptakan suasana mirip-mirip puisi?. bisa dikatakan tidak ada. sebab bunga-bunga yang kita cabut paksa di pinggir jalan tumbuh dengan keringatnya sendiri. meskipun sekali-sekali kita tak sabar ingin melihatnya mekar walau baru kemarin kita tancap di tanah.

kita tak tercipta dari pemikiran filsuf atau kegilaan versi Bernard shaw.  juga tak dibesarkan oleh sikap kritis pendosa-pendosa politik. tak mengherankan kalau sedikit gagap menjabarkan kekeliruan politisi yang rata-rata klo prip. atau ikut-ikutan latah memaki keadaan yang tak kunjung mengganti pakaian seperti hajat orang banyak.

lamteumen, seperti juga tempat lain. ia memenuhi kewajibannya sendiri, dengan keberadaan warung kopi. si stress manapun rutin menjenguknya, sekedar membasuh kepala dengan sanger panas atau kopi encer, namun, sebab harga-harga sudah tak masuk akal, kian hari jantung kita sudah tak sekuat dulu. untuk cafein-cafein yang brutal.

di lamteumen sana, ada keberanian baru yang akan kita alirkan ke beberapa batok kepalas setiap sabtu merah (RED SABBATH). jangan Tanya keberanian itu dalam bentuk apa, tunggulah beberapa jeda, mereka akan berbicara banyak melalui jalan-jalan pemikiran sendiri. kita tak ikut sejauh itu. sebab kata mereka, “sekolah sudah mati. maka, kami hidupkan belajar”. soal apa yang akan mereka pikul di tengah realitas memusingkan ini. tugas kita memberi ruang lebar di antara bongkahan batubata dan dinding retak.

walau sesekali mesti mengakali puntung rokok agar berasap kembali, atau meneguk sisa kopi semalam, yakinlah sabtu-sabtu itu akan terus hidup selama jendela rumah kita buka jauh lebih awal dari tahun-tahun yang telah lewat.

mungkin, sudah waktunya berbicara kesenian selain bermain Pe-Es. sebab kesenian juga seperti sifat Pe-Es. membuat kita penasaran.  kesenian yang tidak sekedar untuk dipajang sebagai pemuas nafsu di akhir pekan. kesenian yang ketika dilemparkan ke tengah-tengah rakyat  putus sekolah akan memberi makna dan gairah buat melanjutkan kehidupan. mungkin hikayat panjang yang dibacakan dalam event-event tertentu adalah salahsatu wujud nyata dari pencapaian itu. jangan terburu-buru menyebut puisi. sebab puisi-puisi yang terlanjur kita tulis, mendadak dikembalikan dengan label; “untuk seorang penyair”. kita juga bingung dengan puisi sendiri, kita mati-matian berupaya membuat orang rebah dalam kalimat, agar secepatnya disebut penyair. penyair berkalung diksi indah.tapi, jangan berusaha mengikuti Rendra atau Afrizal Malna. jangan pergi bersama sitor situmorang untuk bertapa di bukit kata. enyahkan Sutardji dari pemilahan makna untuk kata-kata kita. sibukkan ia dengan mantra-mantra individualism sendiri. kelak ia bosan sendiri. untuk ukuran kita, kata-kata punya kelebihan sendiri untuk diakrobati saat benak tak stabil.

salam. komunitas kanot bu.

Lamteumen

Sarjana Tanpa SK Pegawai

inilah tulisan saya yang dimuat di webnya ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) http://www.ispi.or.id/2011/08/21/sarjana-pendidikan-tanpa-sk-pegawai/Tan Malaka, portrait as published in his autob...

Image via Wikipedia

Belikan es krim mewah di toko swalayan
Bangkitkan selera hidup orang kampung
Bawalah perubahan tatakrama orang pendidikan
Dalam jamuan makan siang
Kita adalah tinta-tinta
Yang siap menandatangani kontrak sosial
Ijazah-ijazah palsu dan proyek fiktif
Atau kita belajar lagi menyesuaikan harga diri
Dengan selembar materai pada surat lamaran
Dan calon istri kita akan bangga
2009.Banda Aceh

‘resiko’ menjadi seorang sarjana idealnya adalah bukan pada seberapa besar kemampuannya merubah kondisi sosial, tapi pada seberapa besar keinginannya untuk terjun ke praksis dalam kehidupan. Berjuang di lini terdepan seperti pahlawan dalam pengertian dalam paling modern.

Karena, tak semua sarjana adalah intelektual. Dan semua intelektual adalah sarjana. Biar sekolah sampai ke langit sekalipun. Dengan gelar akademik yang berderet sampai ke ujung dunia.

Mr. Soerjoadipoetro holds a lecture on Tagore'...

Image via Wikipedia

Dalam situasi serba gamang ini, pembludakan sarjana semakin mempersempit peluang kerja. Keberadaan sarjana dengan skill dan daya saing tangguh amat dibutuhkan. Ledakan lulusan kampus setiap tahun terus menanjak. Memusingkan universitas tempat lulusan menimba ilmu. Universitas seperti kehabisan akal untuk lebih kreatif ‘menanamkan’ ilmu pengetahuan. karena universitas kita kebanyakan menganut system ‘bank’ . Yang mentransfer pengetahuan seperti mekanisme perbankan. Bagai kuali kepala mahasiswa dituangkan pengetahuan.tanpa dialektika maupun penalaran kritis. Mahasiswa belajar dan terbiasa hidup dalam ‘ruang’ serba praktis sehingga tak heran lulusan universitas kita rata-rata tidak punya pilihan lain selain mengantri nomor ujian saat tes pegawai negeri sipil. Tidak haram hukumnya menjadi pegawai negeri. Yang ditakutkan masyarakat peduli pendidikan barangkali lebih kepada kehilangan agen perubahan manakala sarjana-sarjana kehilangan kreatifitas, daya kritis. Dan lebih menyukai hidup dalam area aman (safety player).

Berikan sepuluh pemuda, niscaya akan kuubah dunia . Harapan terbesar seorang Soekarno tidak pada orang tua yang notabene punya segudang pengalaman dan pengetahuan. di pundak pemudalah revolusi akan berjalan. Walau bermodalkan semangat semata.

Perubahan tak akan jatuh langit jika tak diupayakan oleh manusia. Tuhan tak begitu saja mengubah nasib suatu kaum secara gratis, ada sejumlah pengorbanan di sana. Airmata bahkan darah sekalipun.

Idealnya sarjana adalah seseorang yang mempunyai kelebihan secara keilmuan dan wawasan. Yang dapat diharapkan membawa angin segar di tengah membusuknya iklim pembangunan yang diarahkan semata-mata pada fisik. Universitas kita tiap tahun meluluskan sarjana dengan spesifikasi keilmuan beraneka ragam, namun segelintir saja yang menceburkan diri dalam ke dalam masyarakat memperkuat pembangunan. Mereka lebih senang bersikap individualistik. Bersikap ekslusif dengan kungkungan ilmu sendiri.

Ketika melihat sebuah buku bersampul seorang perempuan kurus dikelilingi anak-anak tanpa baju, saya penasaran dengan buku itu. ‘Sokola Rimba’ judulnya. Isinya kumpulan catatan harian pribadi Butet Manurung selama berada sambil mengajar di pedalaman Jambi bersama orang Rimba yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas. Butet Manurung dengan senang hati melepaskan kehidupan perkotaan yang serba gemerlap dan memberikannya kecukupan fasilitas. Di pedalaman Jambi ia tidak mengajar anak-anak berpakaian seragam merah putih atau berdasi. Ia mengajarkan anak-anak baca tulis. Kebutuhan dasar pendidikan ia penuhi agar anak-anak suku orang Rimba. Cita-citanya sederhana, sesederhana hidup orang-orang Rimba .

Sebagai seorang pecinta alam yang mempunyai jaringan luas dan terlahir dari keluarga berada, tentu saja Butet tidak sulit mencari pekerjaan dimana saja. Ia bisa saja tidur-tidur atau menikmati teh sore, tanpa perlu berpikir untuk membuka Sokola Rimba di pedalaman Jambi. Toh mereka bukan siapa-siapanya. Bukan tanggung jawabnya.

Mungkin Butet bukan satu-satunya orang altruis dalam dunia pendidikan. Ada ribuan yang lain yang tak terpublikasi media. Namun mereka seakan terlahir sebagai pembawa obor di tengah gelapnya system pendidikan yang serba formal.

Secara tidak lansung, Butet menjewer kita dengan praksisnya yang nekad. Mencambuk kesadaran kita akan gerakan perubahan.

Kadang kita terharu ketika menyaksikan anak muda dengan pakaian almamater turun ke kampung-kampung saat KKN. Kedatangan mereka memberi nuansa baru dari sebelumnya terasa pengap. Banyak hal mereka bawa dari kampus (karena suatu saat mereka akan kembali ke masyarakat).

Sayangnya, keberadaan mereka di sana dalam rangka pemenuhan nilai-nilai akademik berupa pengabdian. Dan sifatnya temporal. Seterusnya tak disertai keberlanjutan baik dalam bentuk kelompok atau individu. Semata-mata formalitas itulah yang amat sangat kita sayangkan.
***

Di tengah kondisi sistem pendidikan yang serba berubah-ubah per semester, hadirnya para pendidik yang semata-mata bekerja demi pengabdian pada masyarakat adalah suatu keniscayaan. Bisa jadi pemerintah kecolongan dalam penerimaan pendidik untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Kenyataan di lapangan telah member bukti. Masih banyak pendidik kurang inisiatif, miskin gagasan karena gajinya telat dibayar. Atau membolos karena ada kerja sampingan. Kondisi seperti ini mengakibatkan pendidikan kita statis kalau tidak ingin dikatakan stagnan.

Pendidik harus kembali membuka catatan-catatan lama tentang pendidik progresif semacam bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara dengan taman siswanya yang berprinsip non suku dan menanamkan rasa nasionalis buat muridnya. Yang membanggakan justru Taman Siswa tumbuh dan berkembang di tengah penjajahan Belanda, tentu saja ancamannya sangat berat.

Atau pendidik kembali menghayati petualangan pendidikan Tan Malaka dengan membangun sekolah buat anak-anak kuli perkebunan di Deli. Keberpihakannya kepada kaum marjinal ini patut diteladani di tengah menumpuknya pendidik di sekolah-sekolah formal dewasa ini.

Kita kekurangan orang-orang progresif seperti tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas. Ki Hajar Dewantara dan Tan Malaka mungkin hidup di zaman yang serba kurang dibandingkan dengan zaman kita sekarang. Namun, di tengah keserbakurangan itu, mereka tak lantas mundur meskipun nyawa menjadi ancaman. Mereka adalah pribadi-pribadi kuat. Bermental baja walau mereka tak digaji pemerintah kolonial. Tapi mereka memilih jalan ‘lain’ untuk membentuk karakter bangsanya.

Akhir kalam, kita patut merenungi satu kata dari Butet Manurung. “saya tak ingin mati tanpa dikenang”. Maka, berbuatlah,kawan.

Salam pendidikan.

Bivak Emperom. Banda Aceh. Akhir Mei 2011.

Published in: on 29 Desember 2011 at 11:46 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ibu Ros, Mantan kepala sekolah saya di SDN 48

setelah saya sms dia hendak ke sekolahnya. saya lansung bergerak ke SDN 33 Banda Aceh di seputaran Peuniti. sekolah yang dibangun oleh salahsatu merk soft drink yang jadi ikon dunia modern. sekolah sedang sepi. siswa masih mendekam dalam  kelas menunggu jam istirahat. hanya bendera yang berkibar sesekali dihempas angin pagi yang baik hati. di ruangannya ang nyaman, kami bercerita panjang lebar tentang banyak hal. dari soal pendidikan sampai soal kebun belakang rumah sekolah SDN 48 dulu . di akhir pembicaraan yang hangat itu, dia ngasih lihat tulisan yang dimuat di salahsatu buletin pendidikan di Banda Aceh. ini tulisannya, sila dinikmati dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Saya menjadi guru sejak tahun 1978 dan ditempatkan pada salah satu sekolah yang berlokasi di Aceh Besar yang jaraknya dari rumah ke sekolah hanya 500 M, Kondisi murid pada saat itu ada siswa yang kelas VI belum bisa membaca, namun dengan semangat yang masih baru menjadi guru saya dengan sabar membimbingnya  hingga siswa saya bisa membaca.

Selama bertugas pada SD 93 saya membina siswa yang ikut Olimpiade IPA dan UKS ,dan Alhamdulillah saya bersama-sama teman berhasil membina siswa dalam lomba Olimpiade sampai memdapat juaru di tingkat Kota ,tetapi dalam membina UKS saya dapat berhasil ke tingkat Nasional dan mendapat juara 10 besar, demikianlah pengalaman saya selama memgabdi sebagai guru selama 28tahun dengan berbagai suka citanya.

Pada Tahun 2000 saya dipanggil untuk mengikuti tes calon kepala sekolah dan Alhamdulillah lulus ,dan sudah memgikuti cakep dan baru pelantikan nya Febuari 2008 dengan memdapat tempat tugas yang luar biasa jauh nya dari tempat tinggal saya,tetapi tidak menjadi hambatan bagi kami untuk memgembangkan tugas yang mulia ini.

Saya bertugas sebagai kepala sekolah pada bulan Febuari 2008 dengan penempatannya pada SDN 48 Kota Banda Aceh yang terletak di kecamatan Meuraxa kota Banda Aceh.Daerah yang terparah waktu musibah tsunami.Tetapi saya tidak berputus asa pada saat bertugas dengan jarak 8 km dari  tempat tinggal saya .

Kondisi sekolah cukup bagus karena sekolah dibangun oleh EI (education international) dengan semua fasilitas ada tetapi jumlah siswa yang sangat sedikit yaitu hanya 49 orang dari kelas I sampai dengan kelas VI. dan kondisi desa yang sepi karena pada saat itu penduduk nya belum ramai sebab daerah yang terparah waktu tsunami,

Keadaan siswa, sudah kelas V dan VI ada yang belum bisa membaca dengan ketekunan dan kesabaran, saya setiap hari sudah hadir jam 7.15 Wib . Setiba di sekolah saya membimbing siswa satu persatu untuk membaca sebelum senam dimulai,dengan penuh kesabaran . Alhamdulillah pekerjaan saya tidak sia-sia , setelah beberapa bulan akhirnya sekolah saya terbebas dari siswa yang tidak dapat membaca dari kelas I sampai dengan kelas VI. sedangkan teman –teman yang lain hadir nya sekitar jam 8.15wib akibat sudah terbiasa pada saat itu, tetapi setelah saya mengadakan rapat dan memberikan arahan dan bimbingan pada setiap hari sabtu dengan mengadakan KKG (kelompok kerja guru) mini, kita memberi motivasi yang baik dan mencontohkan langsung, dan akhirnya teman –teman guru sudah dapat hadir lebih awal dari saya. (lebih…)

Published in: on 23 Oktober 2011 at 10:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

 

Published in: on 16 Maret 2011 at 5:36 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Guru: identitas, kreatifitas dan progresivitas

Pada  sebuah training yang diprakarsai oleh PMRI ( Pendidikan Matematika Realistis Indonesia ) di sebuah sekolah dasar di kota Banda Aceh, yang menghadirkan pemateri dari kalangan akademisi, dan diikuti oleh hampir seluruh guru sekolah dasar di wilayah barat kota Banda Aceh itu, mengetengahkan metode praktis dan menyenangkan dalam penyampaian materi ajar matematika, pelajaran  yang terkenal rumit dan memusingkan, tidak hanya bagi siswa, juga kalangan guru sendiri diam-diam merasakan hal yang sama.Hal ini lazim, mengingat hampir seluruh antero negeri ini, jika kita tanyakan satu persatu siswa, pelajaran apa yang paling kalian tidak sukai?, mereka serentak menjawab, matematika. Dan kalau pun ada mencintai pelajaran ini, ia dianggap sebagai kolot dan berkepribadian serius, tentu saja ini keliru besar.

Kembali ke seminar di atas. Diantara pemateri itu, hadir juga serombongan bule (tidak jelas jumlah mereka), yang kalau didengar dari bahasa mereka gunakan, bisa dipastikan berasal dari Eropa, tepatnya Belanda, negeri yang puas menjajah Indonesia. Kedatangan mereka tentu saja sebuah motivasi tersendiri bagi kami. Dikarenakan, selain mereka cakap dalam berbicara juga sangat komunikatif ( walau menggunakan penerjemah ). Mereka juga energik,  mempunyai vitalitas tinggi untuk saling berbagi pengalaman dalam pengelolaan pembelajaran, dari perencanaan sampai aplikasi di kelas. walau diantara mereka terdapat beberapa perempuan berumur di atas 50 tahun.

perhatian saya bukan karena mereka keren dan cantik-cantik. Dan bukan pula karena mereka orang asing yang mempunyai keserbaan. Tidak sekali-kali. Saya merasa diri  bodoh melihat beberapa ulasan dan praktek mengajar mereka ( harap maklum, rombongan itu adalah mahasiswa keguruan, mereka didampingi oleh dosen ilmu pendidikan dasar ), kalau tidak salah mereka sedang melakukan semacam observasi lapangan tentang penerapan matematika realistik di Indonesia.

Dari banyak hal yang saya kagumi dari mereka, ada satu hal yang membuat saya benar-benar terinspirasi, sebelum praktek proses belajar mengajar, ternyata mereka mengawalinya dengan menceritakan sebuah dongeng yang sangat lokal. Yaitu, Nenek sihir (saya hanya menceritakan di awalnya saja). Si bule berperan dengan kostum dan gaya bicara serta tindak-tanduk layaknya nenek sihir yang terkenal jahat.  saat sang bule memperagakan dengan totalitas ekspresi sangat bagus, kami sekalian terhipnotis, selanjutnya di akhir peragaan dongeng si bule dengan bahasa Indonesia patah-patah, berteriak ; “semua anak-anak akan saya culik!”.  Semua peserta training kaget dibuatnya, karena dari tadi tenggelam dalam penampilan sang bule tersebut dengan gaya teatrikal memukau. Bisa dibayangkan bagaimana seandainya suasana seperti itu terjadi di kelas bawah  ( I, II, III ) Sekolah dasar. Saya yakin siswa tidak merasa bosan jika gurunya pandai memulai sebuah pengajaran dengan mendongeng disertai peragaan akting yang layak.

***

Kemudian,  tibalah giliran peserta training untuk mencoba memperagakan apa yang sudah dilihat  tadi, sayangnya, hanya beberapa gelintir saja berani maju untuk memperagakan, selebihnya hanya duduk dengan wajah tertunduk, dengan sedikit terpaksa, sang bule menunjuk salah seorang guru yang berpakaian rapi uniform Darma Wanita standar dinas pendidikan, mengenakan rok panjang dengan jahitan ketat , baju lengan panjang tapi menempel ditubuh sehingga memperjelas setiap lekuk tubuh, ditambah jilbab yang ia gunakan adalah jilbab terbaru keluaran butik Islam, namun mirip dengan jilbab teller bank, karena seluruh bagian bawah jilbab dimasukkan ke dalam baju. Sehingga bagian dada terbuka begitu saja.

Dengan agak malas ia bangun dan beranjak ke depan kelas, di depan kelas sang guru meniru dan memperagakan nenek sihir, bergerak ke sana kemari layaknya nenek sihir sedang mencari anak-anak untuk diculik, ia tidak dapat memainkan peran sebagai nenek sihir, dengan sekenanya saja ia memperagakan, tanpa intonasi , tidak jelas artikulasi, selain  pakaian yang ia kenakan ketat, sehingga membatasi gerakannya, jelas bahasa tubuhnya tidak memikat, eksplorasi penjiwaan peran juga tidak berjalan efektif.

***

Mungkin hampir merata di tiap sekolah, sebagian besar guru masih belum mau beranjak sedikit dari metode mainstream, metode lama masih kokoh berurat akar dalam segenap guru yang rata-rata hasil didikan pola Orde baru. dalam artian guru masih sangat tabu apabila, di hadapan muridnya berakting peran layaknya di panggung drama (jangan-jangan sebagian guru diwajibkan Jaim atau jaga image). Padahal dalam setiap training mengenai hal ikhwal metode pembelajaran, hampir semua pemateri menekankan pentingnya menggunakan gaya teatrikal. Cacatkah seorang guru bila ditertawai tatkala mengajar menggunakan gaya teatrikal?. Penggambaran demikian bisa menimbulkan sinyalemen atas usah-usaha bersifat laten untuk membatasi kreatifitas guru.

Lalu, apakah seorang guru mesti menguasai ilmu peran layaknya seorang aktor panggung? Meskipun tidak seahli seniman teater, setidaknya ia menguasai bahasa tubuh seorang story teller. Dengan harapan dapat menguasai persepsi siswa ketika ia sedang memberi materi pembelajaran di depan kelas, bukan malah menguasai persepsi siswa untuk selanjutnya memasukkan sejumlah doktrin. Saya ingin mengutip satu statemen  Vina Barr, guru teladan  Florida, “Kami bukan hanya guru, kami adalah seniman pendidikan, kami melukis pikiran orang-orang muda”.

Apakah dengan berbicara panjang lebar dan mampu menjinakkan kegaduhan kelas lantas tugas guru sudah selesai?. Barangkali saja boleh jadi benar. Mengingat konsep penegakan ketertiban kelas masih belum sepenuhnya berhasil meniadakan sifat militeristik, guru menjadi penguasa tunggal, menekan psikologis anak ( bullying ). Dan tak jarang melakukan kekerasan fisik.

Ini tidak akan terjadi seandainya seorang guru menguasai kelas dengan terlebih dahulu memusyawarahkan metode belajar apa yang akan dipakai dalam penyampaian materi.  Ini penting, mengingat dewasa ini kita sering mendengar pendidikan partisipatoris yang lazim digunakan aktivis pergerakan pendidikan kritis, sebagaimana sang pencetus mazhab pendidikan kritis ( Paulo freire ) katakan, “siswa bukanlah objek dari pendidikan, tapi turut pula menjadi subjek pendidikan. Karena siswa bukanlah bejana kosong yang diisi pengetahuan tanpa dilibatkan dalam proses mendapatkan kebenaran ( Banking concept of education )”.  Hakikat guru kehilangan identitas, manakala ia serba menguasai, dari penentuan metode sampai arah yang mau dicapai dari sebuah materi ajar.

Masih tergambar dalam ingatan saya masa-masa SD dahulu, tepatnya di kelas enam. Kepala sekolah kami yang sekarang sudah Almarhum ( semoga Allah memberi kemudahan dan tempat layak di sisi-Nya ), sering menjadi guru pengganti saat walikelas kami berhalangan hadir. Tanpa merasa kehilangan kewibawaan, ia sering meminta pendapat kami tentang bagaimana agar kami tidak bosan belajar Matematika, dengan sangat antusias kami memberi saran, bahwa ada baiknya jika belajar itu diselingi dengan cerita-cerita humor atau sejarah para Nabi. Benar saja, kami tidak menjadi besar kepala karena dimintai pendapat, malah ia mendengar dan menjalankan saran kami walau untuk satu mata pelajaran hari itu saja. Begitulah, sebagai anak-anak, kami mendapatkan kembali Surga yang hilang meskipun tak sampai dua jam.

Tugas guru adalah tugas kebudayaan yang tak berorientasi semata-mata pada sisi kognitif dan menafikan dua sisi lain, psikomotorik dan afektif. Pantas saja dewasa ini, output dari pendidikan kita menghasilkan manusia-manusia pintar tapi mekanistik. Di sinilah dibutuhkkan identitas pendidik yang emansipatoris dalam  membangun sebuah proses transformasi ilmu dengan relasi dialektis.

Dibutuhkan kreatifitas dalam proses transformasi. Hal inilah yang jarang sekali menjadi titik tolak dalam memulai sebuah proses belajar mengajar oleh guru-guru kita, sejumlah repetisi dari  dari metode masalalu masih saja diterapkan dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh, dalam pengajaran CALISTUNG ( baca tulis dan hitung ) di sekolah dasar kelas awal, yang sebenarnya membutuhkan kesabaran pada tingkat tinggi. Akan tetapi guru masih saja menggunakan pola-pola lama yang sangat menekan dan otoriter ( yang pernah sekolah tentu saja dapat membayangkan betapa tersiksanya ketika disuruh menghafal abjad dan angka-angka dibawah tekanan mental dan suasana buruk ).

Guru kehilangan orientasi pedagogik, minim kreatifitas karena desakan  pendidikan pragmatis. lebih senang mengajar sekenanya saja,  mengingat tidak ada yang perlu mereka capai dalam pembelajaran, selain keberhasilan  dan keluar sebagai pemenang dalam menghadapi ujian ( baik UAN atau ujian sekolah ) yang lembaran soalnya sudah disediakan Dinas pendidikan masing-masing wilayah. Guru sepertinya tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat, tapi dinas pendidikan.

Dinas pendidikan di satu sisi punya kontribusi terhadap kurang  munculnya kreatifitas guru di sekolah-sekolah pemerintah terkhusus. Penyebabnya, tentu saja selain dinas pendidikan kental dan sangat birokratis memandang pendidikan (perhatikan betapa tersiksanya guru dengan ketentuan administrasi dinas pendidikan), mereka juga  selalu melihat pendidikan dengan indikasi keberhasilan dan ditentukan oleh seberapa banyaknya angka-angka kelulusan.  Dalam hal ini, guru menyimpulkan sendiri bahwa tak berguna juga membuat anak didik bergairah dan terinspirasi dalam PBM, toh ujung-ujungnya hanya menjawab soal pilihan dan tinggal menconteng saja, habis.

Kreatifitas yang saya maksud di sini bukan hanya kreatif dalam mencari jawaban atas pertanyaan baku dalam soal ujian, seperti kreatifitas seorang tutor di lembaga bimbingan belajar, yang secara tidak lansung hendak mengatakan, sekolah bukanlah tempat yang tepat buat sukses dalam berbagai macam tes. kreatifitas yang saya maksud adalah, kreatifitas yang pada dasarnya sudah tertanam dalam setiap jiwa anak-anak. Kreatif yang akan membuat anak-anak senang dan mencintai diri sendiri, mencintai sekolah dan  ilmu pengetahuan. Di sanalah guru berdiri membimbing siswa, mengenalkan realitas dunia yang kasat mata, bukan dunia yang serba indah seperti disajikan dalam buku teks pelajaran dan sinetron dalam televisi kita hari-hari dewasa ini. Seperti yang di katakan oleh Paulo Freire, pendidikan tidak semata-mata membaca kata ( teks ), akan tetapi juga pendidikan adalah membaca dunia sekitar    ( konteks ). Sekolahlah tempat semestinya peserta didik menemukan jatidiri dan karakteristik sosial di mana ia berada. Sekolah bukan tempat guru menjadi penguasa kecil di antara peserta didik yang lemah secara posisi.

Maka di sinilah dibutuhkan guru yang memiliki progresifitas. Guru yang mempunyai keyakinan tinggi terhadap kemanusiaan. Tidak tersedot oleh arus pragmatisme pendidikan yang menyianyiakan kepentingan siswa oleh karena terdesak  tuntutan pemerintah yang bernafsu mengejar target sehingga melupakan proses. Guru semacam itulah dibutuhkan dewasa ini,  yang tetap memegang idealisme  meskipun berada dalam situasi tidak sehat.

Kesadaran politis terhadap posisi dan tindakan yang akan diambil seorang guru merupakan syarat utama buat kemajuan guru. Guru bukanlah profesi birokratis serupa Pegawai negeri sipil di balik meja kerja. Guru mempunyai tugas tidak sekedar transfer informasi (baca pengetahuan), tapi malah mepertanyakan kembali informasi yang diterima. Maka tugas seorang pendidik progresif adalah sebagai penyiap agen-agen perubahan di masa mendatang, dalam istilah Dr. M. Agus Nuryatno, pendidik transformatif menempatkan pendidikan bukan sebagai reproductive force, tetapi sebagai productive force, yaitu sebagai media mobilitas social.

Kalau begitu, jika pendidik menyadari ada tugas politik dalam setiap tindakannya (bukan malah berpolitik praktis). Maka guru wajib menjadi pengilham peserta didik, bukan guru yang pemberitahu, yang menghasilkan lulusan pintar secara pengetahuan namun apatis dan kurang peka terhadap fenomena dan struktur social sekitar.

Selama ini yang kita perhatikan, lulusan yang dihasilkan sekolah kita adalah lulusan yang sejak hari pertama menginjak dan mengenal sekolah sudah ditanamkan prinsip, sekolah adalah investasi masa depan. Sayangnya, yang dimaksud investasi di sini  lebih banyak dipahami dalam kerangka ekonomi dibanding non ekonomi.  Lantas apa yang kita harapkan dari sekelompok orang yang hari-harinya sibuk mengejar keuntungan ekonomis, bisakah kita percayakan Negara pada orang demikian?. Yang dalam istilahnya, “pengusaha yang penguasa”. Perubahan yang bagaimana akan kita inginkan bila anak-anak yang kita siapkan untuk hari esok bekerja semata-mata untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya.

Peran guru dalam menciptakan lulusan berkarakter sosial serta mempunyai empati terhadap dunia sekitar sangatlah besar, dikarenakan hanya intitusi sekolahlah yang mempunyai legitimasi kuat buat menentukan arah kebijakan sebuah pedagogik. Bukan malah menjadi guru yang semata-mata mencari posisi aman setelah diberikan SK 100 %. Guru yang sehari-hari mengajari anak berhitung, tanpa mengajari apa yang patut untuk diperhitungkan.

Progresifitas di sini dalam kerangka berpikir, bukan dalam kerangka politis. Mengembangkan potensi diri seorang guru tidak semata-mata dengan upah mengajar layak, tapi bagaimana menciptakan guru yang sadar secara politis atas tindakan pedagogis. Guru yang mengerti dan mampu memetakan struktur sosial dan paham terhadap efek bawaan dari konstruksi sosial yang buruk.

Guru tidak sekedar pipa transfer ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan bukan sebuah benda bebas nilai, ada berbagai kepentingan bermain di situ dari sejak awal proses pembentukannya. Terutama kepentingan kelompok yang berkuasa. Dan seorang guru progresif tidak memisahakan ilmu pengetahuan dari realitas sosial. Karena lulusan sekolah pada akhirnya akan kembali dan bergelut dalam masyarakatnya juga. Maka tugas seorang guru tidak stagnan hanya pada titik transfer informasi, tapi sampai pada tingkatan mempertanyakan serta merekonstruksi informasi.

***

Untuk mengembalikan marwah pendidikan kita, tidak bisa tidak mesti merubah pola pikir dan merehabilitasi orientasi pendidikan kita yang sudah terlanjur pragmatis. Harus diakui merubah pola pikir bukan pekerjaan sehari dua, dibutuhkan waktu yang panjang untuk hajat ini. Tapi hal ini tidak lantas absurd.

Apakah mesti menunggu masyarakat mencapai tingkatan pengetahuan sehingga mereka menerapkan sendiri konsep Ivan Illich, Deschooling Society (masyarakat tanpa sekolah). Karena apa yang mereka harapkan dari sekolah tidak sesuai harapan, karena sebagian masyarakat sudah sampai pada tingkatan pemikiran, bahwa sekolah bukan tempat baik untuk melahirkan manusia-manusia kreatif, mandiri, Yang mempunyai visi futuristik cemerlang. Sementara sekolah yang ada saat ini hanya sekolah berstandar baku dengan sifat birokratis tertutup. Dan guru yang mengajar di situ adalah sekelompok manusia yang bekerja atas sesuatu yang serba diatur dan serba teknis.

Tak ubahnya mesin, guru bekerja tidak lagi berdasarkan inisiatif, kerja pendidik tidak tumbuh dari kesadaran menjawab kebutuhan peserta didik, tetapi kerja guru sudah bisa dikategorikan semacam kerja tukang stempel di kantor Pos.Rutinitas kerja terpatron dan berpola sama dari hari ke hari.

Sementara kerja guru semestinya penuh inisiatif dan improvisasi . karena yang dihadapi bukan benda mati yang bisa dipelintir sesuka hati tanpa respon balik. Guru menghadapi manusia seperti yang kita tahu berbeda dan unik dalam keberadaannya. Manusia yang di masa yang akan datang menjadi pengganti kita untuk, tidak saja meneruskan apa yang kita upayakan sekarang, tapi bakal memodifikasikannya sesuai tuntutan zaman yang dihadapinya. Jadi, kepentingan peserta didik harus ditempatkan di urutan nomor wahid, bukan malah menempatkan kepentingan atasan dalam jajaran personalia kepegawaian di tempat teratas.

Butuh pasokan darah segar dalam tubuh kependidikan, sebab guru yang ada sekarang kebanyakan sudah tidak produktif lagi, apalagi yang sudah hampir mencapai masa pensiun. Namun masih dipertahankan dengan alasan belum sertifikasi. Padahal ide sertifikasi tidak menjawab secara menyeluruh atas rendahnya mutu pendidikan kita, sertifikasi hanya menguntungkan sebagian guru dalam soal melipatgandakan upah. sementara dalam proses belajar mengajar seringkali mereka tidak mau meninggalkan gaya jadul.

Guru tanpa dijebak dalam ideologi pasar kapitalis, yang lebih mengutamakan kompetisi (bersaiang) daripada kooperasi (kerjasama), artinya, dalam sistem sekolah kita masih sangat diskriminatif dalam memandang tingkat kemampuan siswa, makanya setiap kita sekolah selalu ada yang namanya ulangan harian, ulangan mingguan, tes bulanan hingga ujian semesteran. Sementara siswa yang tingkat kemampuannya rendah bakal selalu tertinggal bahkan lebih tragis, tinggal kelas. Sistem diskriminatif lain adalah seperti penentuan sekolah unggul dan kelas unggul, yang hanya menjadi tontonan siswa yang sudah divonis rendah kemampuan. Sebuah sistem memiriskan siapa saja yang percaya sekolah adalah tempat pemenuhan hak atas pengetahuan yang dilindungi Negara.

Maka kedudukan guru menjadi semacam supervisor dalam perusahaan, seperti yang digambarkan Sujono Samba dalam bukunya ‘lebih baik tidak sekolah’: Ketika guru selalu menguji, mengetes, atau mengevaluasi  yang pada ujungnya memvonis dengan angka, dampaknya cenderung membatasi, membelenggu, memicikkan, dan mengerdilkan inisiatif kreatifitas siswa, lebih buruk lagi ketika soal-soal tes mengarah kepada hafalan-hafalan atau  jawaban singkat. Model tes semacam ini tidak akan mendorong siswa untuk mengembangkan daya imajinasi, daya kreasi, dan daya analisisnya.

Jelaslah sekarang, paradigma sekolah kita mesti diubah secepatnya. Untuk menata kembali orientasi pedagogik. Dan memulainya mesti dengan mengubah pola pikir guru agar mengembangkan diri. Tidak terlampaui oleh siswa yang lebih cepat berkembang karena akrab dengan perubahan teknologi yang begitu cepat dan massif. Sementara kebanyakan guru, jangankan membiasakan diri membaca buku, menghadapi benda yang namanya komputer saja gagap (berdasarkan pengalaman pada beberapa pelatihan computer).

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengutip salahsatu Hadits Nabi, “ tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat”. Karena sudah menjadi guru, apakah berhenti belajar?. Wallahu a’lam bishawab…

Published in: on 15 Maret 2011 at 2:39 am  Comments (2)  
Tags: , ,

Menggambar tubuh dan ketabuan alat reproduksi

Saya tak akan menceritakan orang lain dalam cerita ini, tapi apa yang saya rasakan semasa kanak-kanak dahulu. Keluarga adalah keluarga petani yang kesehariannya ibu dan ayah saya menyibukkan diri di sawah dari pagi sampai sore. Sementara kami anak-anaknya dibebaskan untuk membantu atau tidak. Tapi kami lebih banyak menghabiskan waktu di sawah dengan bermain lumpur atau mandi jika sawah sedang banjir.benar-benar merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Begini kisahnya, saat ibu saya masih produktif melahirkan adik saya hingga dua lagi di bawah saya. Jarak kelahiran saya dengan adik saya yang pertama sekita 5 tahun. Sedangkan yang kedua sekira 10 tahun. Sesudah itu ibu saya total berhenti mereproduksi manusia (istilah kasarnya seperti itu).

Karena mempunyai seorang abang di atas saya, maka ibu selalu memberi kasih sayang kepada kami berdua dengan keadilan yang menurut saya sangat proporsional. Ditopang kondisi keluaraga yang sedikit terbuka untuk kelas keluarga petani seperti keluarga kami, saya bebas berbicara apa saja mengekspresikan diri, baik itu saat makan bersama atau saat ibu menidurkan saya dan abang saya. Ibu selalu menyanyikan lagu Qasidah kesukaannya, yang masih saya ingat sampai sekarang penyanyi itu Hajjah Nur Asiah Jamil (penggemar Qasidah tak asing dengan nama ini).

Ibu membiarkan saya anak keduanya berbicara atau menyanyi dengan berteriak, padahal ibu tidak pernah membaca buku atau majalah mom and kiddie yang selalu mengupas tentang bagaimana berkomunikasi dua arah dengan anak di bawah umur seperti saya. Tapi karena kesabarannya sebagai ibu, maka ia biarkan saya berekspresi sesuai jatidiri.

Suatu hari, ketika sedang menganyam tikar di teras rumah, sambil tengkurap tak jauh dari tempat ia menganyam tikar, saya asyik menggambar di kulit buku, ibu selalu melarang saya menggambar di situ, karena katanya bisa kena hukuman dari ibu guru kalau diperiksa buku catatan itu. Tapi karena saya memang suka menggambar, saya acuhkan saja larangan ibu. Toh pikirku kalau nanti bukunya disobek-sobek bu guru, saya akan meminta ibu membeli yang lain lagi sebagai ganti. Maka saya teruskan saja kegemaran itu. Hingga sesudah berkali-kali ibu melarangnya, ibu tak tahan lagi dan mengambil paksa buku itu untuk disimpan dalam tas sekolahku, namun sebelumnya kebetulan ibu sempat membuka isi buku untuk memastikan apa yang saya gambar. Lama benar ia terpaku dengan gambar tersebut, setelah lama ia perhatikan gambar yang saya buat itu, tiba-tiba muka ibu berubah dari biasanya, saya tenang-tenang saja mengganti posisi tidur dari tengkurap tadi, ibu bangun dan berdiri seraya  berujar:  “apa sekolah mengajarkan anak-anak untuk menggambar gambar yang tidak pantas untuk usianya??”. Sambil beranjak ke dapur ibu memanggil ayah, kemudian ia kembali ke teras bersama ayah, setelah memperlihatkan gambar itu pada ayah, ibu seperti tidak bisa diam, ia katakan pada saya, jika begini gambar yang saya buat, ia yakin saya tidak pernah serius dalam bersekolah, tak becus dalam menyimak penjelasan guru. Karena asyik menggambar.

Ayah diam saja, lalu mengambil tas saya dan membukanya, satu persatu buku saya ia periksa lapik dalamnya. Dengan wajah memerah ia banting buku ke lantai. Dan sambil jongkok tepat di depan saya, ia berkata, “kalau begini kerjaanmu disekolah, lebih baik besok kau keluar saja dan bantu ibu di sawah”.

Saya diam saja dan pura-pura tidak mengerti (untuk hal begini, anak-anak terkadang lebih licik dari seorang koruptor). Ibu yang sedari tadi diam memegang buku, berkata ketus, “ kalau semua gambar perempuan telanjang itu tak kau hapus, nanti malam kau tidur di luar!”. Menangislah saya tiba-tiba karena takut akan hukuman.

Sambil menghapus gambar-gambar mesum itu (wah saya jadi tidak enak). Abang saya yang sedari tadi duduk sambil makan, mengejek saya sebagai seorang yang suka pamer sama ayah dan ibu, padahal gambarnya jelek. Dia yang memang pintar menggambar saja tidak sok pamer. Bertambah-tambahlah rasa gusar saya hingga tambah keras lagi menangis. Sungguh penderitaan yang dahsyat di sore hari.

Dengan wajah memendam malu teramat sangat, malamnya saya beranjak ke meja makan setelah ibu memanggilnya. Saya berusaha agar tak bertatap lansung dengan wajah ayah, wajah saya tundukkan terus selama makan itu, dan dengan kecepatan lebih dari biasanya, saya kelarkan makan malam dan pergi masuk kamar. Ayah yang dari tadi diam saja memanggil saya dan disuruh kembali ke meja makan. Maka dimulailah persidangan saya yang sesungguhnya.

Pertama ayah menanyakan dari mana saya belajar menggambar, saya jawab tidak belajar di mana-mana, toh sekedar suka saja kok. Karena belum puas dengan jawaban saya, ayah melemparkan pertanyaan lain, “dari mana dapat gambar sebegitu rupa, sampai tanpa sehelai benang pun tubuh perempuan kau gambar?”. Ini pertanyaan yang membuat saya tak dapat konsentrasi untuk mengarang-ngarang jawaban biar ayah menjadi puas, dan mengakhiri interograsi. Ayah kembali menanyakan kembali pertanyaan tadi, saya belum mendapat jawaban, maka saya jawab sekena saja, bahwa gambar itu tidak saya dapatkan dari mana pun. Tapi saya hayal-hayalkan sendiri.

Duaaaaarr..! Ayah memukul meja. Mulailah ia mengata-ngatai saya, ia katakan saya sebagai anak tak berguna yang menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang tidak berguna, ia gunakan telunjuknya menunjuk saya sebagai anak yang berotak kotor. Anak tak bermoral samasekali, banyak yang ia katakan sesudah itu, saya hanya diam saja bergeming, pasrah saja karena sadar ini kesalahan saya yang terlalu bebas menggunakan pikiran untuk menggambar tubuh perempuan telanjang (walau tak mirip sama sekali), padahal anak seumur saya tidak tepat menggambar hal semacam itu. Saya merasa benar-benar berdosa. Dalam hati saya berdoa supaya Allah mengampuni dosa saya untuk kali ini saja. Agar ayah dapat mengakhiri amarahnya.

Akhirnya ibu datang dari dapur dan membelai tengkuk saya seraya berkata, “ sudahlah yah, besok ia tidak akan mengulang lagi menggambar perempuan semacam itu, kamu pergi tidur sana!”. Alhamdulillah ibu datang, dan akhirnya ayah meredakan amarahnya sendiri dan saya pun membawa kejadian itu ke alam mimpi dengan pikiran tak menentu.

Sampai hari ini saya berpikir kenapa orang yang lebih tua tidak dari kita, selalu saja asal marah dengan kesalahan yang diperbuat anak-anak, tanpa membuka ruang dialog yang sehat dan dalam komunikasi dua arah, sehingga anak-anak dapat mengemukakan apa saja yang ia rasakan setelah melakukan kesalahan, dan siapa tahu dengan melakukan komunikasi persuasif seperti itu akan menumbuhkan kesadaran, setidaknya kesadaran diri untuk selalu waspada pada hal-hal negatif.

Namun sesudah saya menginjak dewasa dan mulai pergi dari rumah ( istilah lain untuk kuliah ke luar daerah), ibu mengatakan kenapa ia tak mau membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan perkara alat reproduksi dan soal anatomi tubuh lawan jenis, katanya itu merupakan hal tabu yang pantang diceritakan sama anak-anak. Saya paham akan hal ini. Baginya urusan demikian adalah urusan orang dewasa dan sudah menikah. Untuk anak-anak, mohon maaf.

Lain ibu lain pula seorang guru saya. Ini terjadi ketika saya baru menginjak usia SMP kelas II, sekolah kami terletak di ibukota kecamatan, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari kampung saya. Dimana kami selalu menggunakan sepeda untuk alat transportasi ke sekolah. Walau keadaan cuaca sedang bagaimana pun. Kami setia mendayung sepeda masing-masing. Mengingat sekolah adalah kewajiban dan mendapatkan uang jajan tentunya.

Suatu hari yang sudah tidak saya ingat lagi, sehabis menikmati makanan kecil di kantin, bel di kantor dewan guru berbunyi panjang pertanda jam istirahat sudah habis. Kami murid kelas dua bergegas masuk ke kelas, karena jam tersebut  adalah jam mata pelajaran Bahasa Indonesia yang diasuh oleh seorang guru berperawakan pendek dan menggunakan kacamata, Nurani nama guru tersebut, namun kami dibelakangnya sering menyebut ‘ibu sex’. Mungkin yang saya tahu nama itu sudah berbilang tahun menjadi nama favorit diantara murid yang pernah sekolah di SMP itu.

Singkat kata, diantara banyak kelebihannya yang paling saya ingat adalah; keahliannya membuat siswa terhipnotis mendengar anekdot-anekdot yang sering dikeluarkannya taatkala siswa sedang jenuh mengikuti mata pelajaran yang diasuhnya. Ia kadang menceritakan peristiwa-peristiwa di masa lalu yang belum pernah kami dengar sebelumnya sehingga kami mendapat pengalaman lain. Tapi tak jarang ia menceritakan cerita yang nyerempet-nyerempet alat vital. Maka tak heran ia dipanggil ‘bu sex’

Masalahnya, pada hari itu setelah jam istirahat. Saya yang duduk di deretan paling belakang dengan seorang teman sebut saja namanya Bardi, keasyikan menggambar, sayangnya media yang kami gunakan kala itu bukan buku gambar atawa kanvas, tapi baju Nas. Baju Nas di bagian dada saya gambar terus tanpa mempedulikan ibu Nuraini menjelaskan materi pelajaran. Terus saja bagian dada baju Nas saya gambari gambar berbentuk hati ditusuk anak panah yang lazim digunakan untuk mengungkapakan rasa sayang pada lawan jenis.

Karena keasyikan menggambar kami lupa menyimak penjelasan guru yang ternyata dari tadi sudah memperhatikan tingkah kami di belakang. Hingga gambar selesai ibu  Nuraini tidak mengganggu aktifitas yang membuat kami ladat (istilah bahasa Aceh untuk sesuatu yang dilakukan dengan konsentrasi).

Akhirnya, karena sudah beberapa lama lewat namun kami belum memperhatikan penjelasannya, ibu Nuraini memutuskan menegur kami, terkagetlah kami berdua dan ibu Nuraini sudah berada di hadapan kami. Tak bisa mangkir dan beralasan apapun, digiringlah kami ke depan kelas untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah kami lakukan.

Di depan kelas yang berjumlah 45 murid, kami diinterograsi dengan pertanyaan lazim dilakukan oleh  seorang guru, ya sudah kami mengaku saja memang dari tadi sedikit pun tidak mendengar apa yang dijelaskannya.

Tiba-tiba setelah melihat gambar di dada Nas, ibu Nuraini tersenyum. Ia tidak marah. Saya jadi bingung sendiri dengan sikapnya yang tersenyum, apa maksud dia dengan tersenyum?.  Entahlah, yang jelas ia tidak memarahi kami seperti yang saya bayangkan ketika kepergok menggambar.

Akhirnya ia menanyakan apa maksud kami menggambarkan bentuk hati ditusuk anak panah, Nas tanpa menunggu disuruh lansung menjawab sebagai bentuk lambang perasaan cinta kepada orang yang kita cintai. Saya tidak menjawab lagi, karena merasa sependapat dengan Nas. Ibu Nuraini melemparkan pertanyaan itu ke teman-teman lain, namun tak satu pun yang menjawab.

Ibu Nuraini masih menunggu barangkali ada yang masih mau menjawab pertanyaannya, tunggu ditunggu, dijawabnya sendiri.

Dia bilang, gambar tersebut mempunyai makna sendiri. Makna yang menurut dia belum pantas kami ketahui, sebab hal itu hanya untuk merka yang sudah berkeluarga seperti guru-guru kami. Kami tidak membantah dan menerima itu sebagai bentuk keterbatasan kami. Namun katanya, antara bentuk hati dan anak panah itu mempunyai arti dan symbol masing-masing, maka ditanyakanlah pada saya, apa arti dari bentuk hati itu?, saya tak dapat menjawab karena saya memang belum tahu, Nas juga demikian. Kami diam saja. Sambil memperhatikan ke atas muka saya, ia katakan bahwa bentuk hati itu adalah ‘kepunyaan’ ibu kami, dan gambar anak panah itu merupakan lambang dari ‘kepunyaan’ ayah kami, dan dia tanyakan lagi pada Nas, kenapa kami ada dalam dunia ini?. Sebab ‘punya’ ayah dimasukkan ke dalam ‘punya’ ibu, maka lahirlah kita ke dunia ini.

Jadi menurutnya, jangan sembarangan kalau mau menggambar gambar demikian itu kalau tidak paham maksudnya. Saya secara pribadi selain malu juga mendapat pengetahuan tentang asal proses terjadinya manusia, tentu saja pengetahuan yang masih sangat kecil, belum sedetil ilmu Biologi.

Dengan muka tertunduk kami dipersilahkan kembali ke tempat duduk, disambut sorakan teman-teman sekelas. Duh malunya kami hari itu.

Hari itu walau sudah sudah dijelaskan sedemikian rupa tentang ‘kepunyaan’ ayah dan ibu, saya sendiri masih belum bisa membayangkan sejauh yang bu guru jelaskan. Saya hanya terlihat dungu dengan simbol-simbol seksual. Mau bertanya rasanya takut dibilang sebagai orang berpikiran kotor. Ya sudah,  diam adalah jalan terbaik.

Sesudah melewati tahun demi tahun, dan sampailah saya pada kedewasaan seperti sekarang, mengertilah saya tentang apa yang dimaksud hal-hal yang berhubungan dengan seksual.

Begitulah, tanpa tuntunan dalam menggunakan pikiran bisa-bisa terjadi penyalahgunaan. Butuh kebijaksanaan dari orang dewasa dalam menyikapi sikap anak-anak yang mulai terlihat berbeda dari teman seusianya. Pastilah sesuatu terjadi atau bergolak dalam benak dan pikirannya. Jika penanganannya menggunakan metode refresif, atau tak mengajak si anak untuk menuturkan apa yang sedang ia rasa dan bergejolak dalam pikiran kanak-kanaknya. Bisa dipastikan yang terjadi kemudian adalah timbulnya rasa penasaran. Seseorang yang diliputi rasa penasaran akan mati-matian mencari tahu ihwal objek yang menimbulkan rasa penasaran itu. Dalam hal ini adalah hal ihwal tentang anatomi tubuh lawan jenis dan alat reproduksi. Sesuatu yang jika salah penafsiran pada anak usia pra baliqh akan timbul persepsi salah terhadap tubuh dan alat reproduksi. Mereka cenderung berpikir bahwa tubuh dan alat reproduksi adalah bebas untuk digunakan walau untuk hal yang dilarang  oleh agama sekalipun.

Peran orang tua dengan segala kebijaksanaannya sangat dibutuhkan. Yang bertindak sebagai tempat curhat layaknya teman. Bukan malah memvonis dengan kata-kata yang menyudutkan posisi si anak yang memang samasekali tidak punya alasan kuat terhadap apa yang telah dikerjakannya.

Bahkan orang tua cenderung lansung memasukkan nilai religi tanpa memberi penjelasan terlebih dahulu tentang sebab dan akibat dari alat reproduksi dan tubuh jika salah digunakan.

Orang tua selalu terbentur beban ketabuan dalam membicarakan perihal seks. Karena penanaman konsep yang salah tentang alat reproduksi. Alat reproduksi dianggap sebagai hal yang sangat rahasia dan hanya orang-orang tertentu dan sudah bekeluarga boleh tahu kegunaannya. Tragis memang, sebagian orangtua malah tak terlalu peduli masalah penyalahgunaan alat reproduksi. Dan ketika terjadi kehamilan pra nikah, lansung mengklaim si anak sebagai penzina yang kadar imannya nihil. Padahal jika ditilik lebih dalam, orangtua berperan besar menjerumuskan anak-anak mereka. Bagaimana tidak, untuk membicarakan apa yang dilakukan anak di luar rumah saja enggan, apalagi pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih detil semisal, siapa teman laki-lakinya yang paling dekat dengannya, di mana saja mereka nongkrong, siapa-siapa saja teman laki-lakinya yang merokok (untuk anak perempuan). Mungkin untuk anak laki-laki orang tua punya strategi tersendiri yang lebih mujarab.

Pada akhirnya, di zaman yang serba digital ini, benteng moral terakhir jangan sampai jebol oleh serbuan pasukan budaya pop yang kapitalistik dan serba mesum ini. Jalinan komunikasi antar warga rumah mestilah lebih intens. Kita malah abai untuk makan bersama dalam satu meja dengan keluarga inti dan membicarakan sesuatu kepentingan dengan lebih santai. Pengabaian ini berakibat buruk bagi perkembangan anak. Bukan ibu dan bapak. Mereka hanya menangguk penyesalan.

Juli 2010

contoh nyata budaya membaca menjalar kemana-mana

membaca bukan sekedar kerja intelektual

ayat Al-Qur-an yang mulia pertama turun menyuruh kita membaca. kalau itu masih kita abaikan, alangkah ruginya kita beragama.

Published in: on 20 Mei 2010 at 2:50 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

sekolah atau menuntut ilmu?

ekspresi anak sekolah

anda percaya tidak??. selama sekolah kita sebenarnya tidak sedang mempelajari sesuatu. buktinya kita tidak pernah tahu sesuatu sampai seradikal orang lain. contohnya, di sma, jurusan ips. kita mempelajari pelajaran sosiologi, akuntansi. tapi, setelah dewasa apa yang kita dapati, selain ada yang akhirnya jadi tukang cuci, buruh tani. memang ini subjektifitas saya. kalau memang warga negara Indonesia ingin dijadikan sebagai warga yang benar-benar mampu menguasai sesuatu bidang sampai ia mampu menguasainya sedalam mungkin. apakah tidak lebih baik jika segala mata pelajaran yang tidak berhubungan dengan jurusan yang kita pilih dikurangi?is is

jangan sampai terjadi ‘obesitas’ mapel(mata pelajaran). sehingga kita bingung sendiri dengan berton-ton pengetahuan. akhirnya, kita menjadi terpenjara dalam penguasaan mapel yang setengah-setengah. dari sekolah dasar sudah disesaki hafalan yang tidak kita mengerti sekaligus tidak mempunyai manfaat lansung terhadap diri kita. malah bisa-bisa menghambat perkembangan psikologis kita. seperti mata pelajaran PKn. kok anak kelas III sekolah dasar sudah harus menghafal tugas DPR /MPR. tugas Presiden. dan menghapal nama-nama menteri. apa sih hubungannya dengan nasionalisme. toh yang berkuasa dalam pemerintahan tidaklah  permanen sifatnya. yang menjadi masalah mungkin lunturnya sikap nasionalisma anak-anak, hanya karena melihat kenyataan tak sebagus yang digambarkan dalam buku paket dari Dinas Pendidikan. kasiahan sekali. (lebih…)

Published in: on 20 Mei 2010 at 2:20 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

fitnah seorang guru

suatu hari saya sekolah setelah tiga hari meliburkan diri, tepat di penghujung jam sekolah, kel;as kami pelajaran matematika. wali kelas saya seorang ibu guru kepala 3 kala itu, namanya saya masih ingat, tapi tak etis saya sebutkan di sini.

setelah menerangkan tata cara menyelesaikan perkalian bersilang, guru tersebut menunjuk satu persatu siswa sesuka dia, untuk pertama kali kebetulan saya yang tertunjuk, ( dengan kepala kosong saya maju walau saya tahu ini bakal gagal. betul saja, saya tak bisa sama sekali menyelesaikan tugas dari guru yang mulia ). akhirnya, dengan sangat tak berdosa sang guru membenturkan kepala saya ke papan tulis, seraya berkata ” enak sekali liburan ya, kamu pikir ini sekolah ayahmu?”. ( saya berpikir, sejak kapan ayah saya punya sekolah?. padahal untuk membangun rumah mungil saja, ngutang sana ngutang sini, danindahnya belum habis terlunasi. firasat saya, ibu ini tukang fitnah deh…..( untung saya kala itu masih anak-anak.

Published in: on 19 Mei 2010 at 5:46 pm  Tinggalkan sebuah Komentar